Melanjutkan kisah perjalanan saya bersama Tim Prokopim ke Lembur Pakuan, saya awali catatan ini dengan mengutip kembali bisikan legendaris Galileo Galilei: Eppur Si Muove, “Namun bumi tetap bergerak.”
Ucapan lirih itu keluar dari Galileo setelah ia dipaksa menyatakan kesalahan atas pandangannya bahwa matahari, bukan bumi, adalah pusat tata surya. Sebuah kebenaran ilmiah yang justru bertentangan dengan dogma gereja saat itu. Meski dipaksa tunduk, Galileo tidak menyerah pada kebenaran yang diyakininya.
Bayangkan jika kita hadir dalam ruang pengadilan saat itu, menyaksikan Galileo dikecam oleh institusi keagamaan yang berkuasa. Mungkin kita pun akan ragu membela kebenaran demi keselamatan pribadi, membiarkan Galileo berdiri sendiri dengan teori heliosentrisnya yang revolusioner. Lebih dari itu, kita mungkin malah akan menjadi bagian dari mereka yang menyetujui penghukuman terhadapnya, hanya karena tidak berani berbeda.
Kini, dalam dunia modern yang katanya lebih bebas, kenyataannya tidak jauh berbeda. Setiap bentuk keberanian untuk menafsirkan realitas di luar pakem dominan kerap dianggap sebagai pelanggaran terhadap “tatanan nilai” yang telah dipatenkan oleh institusi atau sistem yang lebih kuat. Kita hidup dalam masa yang secara terbuka mengusung kebebasan, namun secara halus terus menekan keberanian untuk berpikir otentik.
Saya menyebut masa kini sebagai babak baru dari penindasan terhadap kebenaran, hanya dengan wajah dan cara yang berbeda. Kapitalisme menjadi lembaga keyakinan baru, dan kita sebagai jemaatnya kadang terlalu patuh terhadap aturan-aturannya. Kita bahkan tak sadar telah menjadi pendukung sistem yang terus mengendalikan cara kita makan, minum, berpakaian, hingga mengonsumsi budaya. Semua seolah harus dibeli. Semua harus melalui transaksi.
Saya masih ingat, dalam perjalanan ke Lembur Pakuan, saya dibekali makanan ringan oleh Bu Ochi, kue dan penganan tradisional. Namun, kenyataan pahit segera menyergap: aturan tak tertulis dan tertulis di berbagai pusat perbelanjaan dan restoran modern telah melarang kita membawa makanan dari luar. Mereka menegaskan batas-batas kepemilikan ruang dan konsumsi, kalau ingin duduk, beli produk mereka; kalau hanya ingin numpang duduk, tinggalkan tempat itu.
Bahkan dalam beberapa restoran cepat saji yang sebenarnya tak perlu menuliskan larangan itu, terpampang besar tulisan, “Dilarang membawa makanan dan minuman dari luar.” Bukan hanya peraturan, tapi sebuah simbol kekuasaan kapital atas ruang publik. Dalam logika sehat, jika seseorang memasuki restoran hamburger, tentu niatnya adalah membeli hamburger. Tapi kapitalisme tidak hanya menjual barang, ia juga ingin mengatur ruang dan perilaku sosial kita.
Kemunculan fenomena Rohana, Rombongan Hanya Nanya-Nanya, dan Rojali, Rombongan Jarang Membeli, lahir bukan semata karena orang tak ingin membeli, melainkan karena orang mencari tempat sejuk dan teduh. Dalam cuaca ekstrem dan suhu harian yang semakin meningkat, naluri manusia mendorong tubuhnya mencari kenyamanan, bahkan bila harus sekadar duduk dalam pusat perbelanjaan tanpa transaksi.
Saya pun, dalam praktiknya, membuka kotak makanan ringan dan menyantapnya di sebuah restoran cepat saji, sambil menunggu pesanan datang. Tidak ada larangan langsung dari pelayan atau pengelola. Dan saya meyakini bahwa kursi yang saya duduki telah saya “bayar” dengan makanan yang saya pesan dari restoran tersebut. Dalam dunia transaksi, semua dianggap sah selama ada uang yang berpindah tangan.
Namun, tetap saja terasa ganjil, seolah saya harus meminta izin untuk menikmati sesuatu yang sebenarnya telah saya bayar. Itulah kekuasaan simbolik kapitalisme yang membentuk rasa bersalah bahkan ketika hak itu sah milik kita secara ekonomi. Sama seperti Galileo, kita dipaksa untuk mengakui bahwa bumi sebagai pusat tata surya hanya agar bisa terus duduk di “kursi nyaman.”
Mungkin perbandingan antara makan penganan tradisional di restoran kapitalis dengan pengadilan Galileo terasa terlalu jauh. Tapi keduanya sama-sama menyimpan merasa ditekan, rasa dibatasi, rasa disalahkan karena memilih keyakinan dan tindakan yang berbeda dari norma dominan. Sama seperti Galileo yang tetap berbisik: Eppur Si Muove, saya pun ingin membisikkan bahwa kebenaran tetap berjalan, kendati dibungkam oleh aturan dan simbol yang kita patuhi tanpa banyak tanya.
Perjalanan ke Lembur Pakuan telah menjadi semacam perjalanan batin untuk menelisik ulang seberapa jauh kita masih bisa jujur terhadap akal sehat kita sendiri. Seberapa kuat kita bisa bertahan di tengah arus deras sistem yang selalu memaksa kita untuk patuh tanpa bertanya.
Saya tahu, mungkin semua ini terdengar seperti rengekan atau gugatan kecil yang tak berarti. Tapi seperti Galileo, saya percaya bahwa satu bisikan kebenaran memiliki nilai yang besar, bahkan jika hanya terdengar oleh diri sendiri. Dan semoga, dari bisikan kecil itu, akan lahir keberanian-keberanian lain untuk tidak tunduk begitu saja pada aturan yang tak masuk akal.
Saya tidak sedang mengajak untuk menjadi anti-kapitalis. Tidak juga mengklaim sebagai pemuja sosialisme. Tapi saya hanya ingin mengatakan bahwa ada ruang untuk mempertanyakan, ada hak untuk menolak, dan ada keberanian yang perlu dirawat untuk tetap mengunyah kebenaran di tengah hiruk-pikuk dunia yang makin seragam. Seperti Galileo, yang walau dibungkam, tetap percaya bahwa bumi terus bergerak.
Dan, meskipun hanya satu catatan perjalanan kecil ke Lembur Pakuan, semoga kisah ini menyisakan satu pelajaran bahwa dalam hidup, kadang kita harus tetap bersuara meskipun lirih hanya lewat tulisan. Akan ada satu kisah penutup dari perjalanan ini yang akan saya tulis beberapa hari ke depan. Untuk sementara, mari ucapkan bersama: Eppur Si Muove!
Ucapan lirih itu keluar dari Galileo setelah ia dipaksa menyatakan kesalahan atas pandangannya bahwa matahari, bukan bumi, adalah pusat tata surya. Sebuah kebenaran ilmiah yang justru bertentangan dengan dogma gereja saat itu. Meski dipaksa tunduk, Galileo tidak menyerah pada kebenaran yang diyakininya.
Bayangkan jika kita hadir dalam ruang pengadilan saat itu, menyaksikan Galileo dikecam oleh institusi keagamaan yang berkuasa. Mungkin kita pun akan ragu membela kebenaran demi keselamatan pribadi, membiarkan Galileo berdiri sendiri dengan teori heliosentrisnya yang revolusioner. Lebih dari itu, kita mungkin malah akan menjadi bagian dari mereka yang menyetujui penghukuman terhadapnya, hanya karena tidak berani berbeda.
Kini, dalam dunia modern yang katanya lebih bebas, kenyataannya tidak jauh berbeda. Setiap bentuk keberanian untuk menafsirkan realitas di luar pakem dominan kerap dianggap sebagai pelanggaran terhadap “tatanan nilai” yang telah dipatenkan oleh institusi atau sistem yang lebih kuat. Kita hidup dalam masa yang secara terbuka mengusung kebebasan, namun secara halus terus menekan keberanian untuk berpikir otentik.
Saya menyebut masa kini sebagai babak baru dari penindasan terhadap kebenaran, hanya dengan wajah dan cara yang berbeda. Kapitalisme menjadi lembaga keyakinan baru, dan kita sebagai jemaatnya kadang terlalu patuh terhadap aturan-aturannya. Kita bahkan tak sadar telah menjadi pendukung sistem yang terus mengendalikan cara kita makan, minum, berpakaian, hingga mengonsumsi budaya. Semua seolah harus dibeli. Semua harus melalui transaksi.
Saya masih ingat, dalam perjalanan ke Lembur Pakuan, saya dibekali makanan ringan oleh Bu Ochi, kue dan penganan tradisional. Namun, kenyataan pahit segera menyergap: aturan tak tertulis dan tertulis di berbagai pusat perbelanjaan dan restoran modern telah melarang kita membawa makanan dari luar. Mereka menegaskan batas-batas kepemilikan ruang dan konsumsi, kalau ingin duduk, beli produk mereka; kalau hanya ingin numpang duduk, tinggalkan tempat itu.
Bahkan dalam beberapa restoran cepat saji yang sebenarnya tak perlu menuliskan larangan itu, terpampang besar tulisan, “Dilarang membawa makanan dan minuman dari luar.” Bukan hanya peraturan, tapi sebuah simbol kekuasaan kapital atas ruang publik. Dalam logika sehat, jika seseorang memasuki restoran hamburger, tentu niatnya adalah membeli hamburger. Tapi kapitalisme tidak hanya menjual barang, ia juga ingin mengatur ruang dan perilaku sosial kita.
Kemunculan fenomena Rohana, Rombongan Hanya Nanya-Nanya, dan Rojali, Rombongan Jarang Membeli, lahir bukan semata karena orang tak ingin membeli, melainkan karena orang mencari tempat sejuk dan teduh. Dalam cuaca ekstrem dan suhu harian yang semakin meningkat, naluri manusia mendorong tubuhnya mencari kenyamanan, bahkan bila harus sekadar duduk dalam pusat perbelanjaan tanpa transaksi.
Saya pun, dalam praktiknya, membuka kotak makanan ringan dan menyantapnya di sebuah restoran cepat saji, sambil menunggu pesanan datang. Tidak ada larangan langsung dari pelayan atau pengelola. Dan saya meyakini bahwa kursi yang saya duduki telah saya “bayar” dengan makanan yang saya pesan dari restoran tersebut. Dalam dunia transaksi, semua dianggap sah selama ada uang yang berpindah tangan.
Namun, tetap saja terasa ganjil, seolah saya harus meminta izin untuk menikmati sesuatu yang sebenarnya telah saya bayar. Itulah kekuasaan simbolik kapitalisme yang membentuk rasa bersalah bahkan ketika hak itu sah milik kita secara ekonomi. Sama seperti Galileo, kita dipaksa untuk mengakui bahwa bumi sebagai pusat tata surya hanya agar bisa terus duduk di “kursi nyaman.”
Mungkin perbandingan antara makan penganan tradisional di restoran kapitalis dengan pengadilan Galileo terasa terlalu jauh. Tapi keduanya sama-sama menyimpan merasa ditekan, rasa dibatasi, rasa disalahkan karena memilih keyakinan dan tindakan yang berbeda dari norma dominan. Sama seperti Galileo yang tetap berbisik: Eppur Si Muove, saya pun ingin membisikkan bahwa kebenaran tetap berjalan, kendati dibungkam oleh aturan dan simbol yang kita patuhi tanpa banyak tanya.
Perjalanan ke Lembur Pakuan telah menjadi semacam perjalanan batin untuk menelisik ulang seberapa jauh kita masih bisa jujur terhadap akal sehat kita sendiri. Seberapa kuat kita bisa bertahan di tengah arus deras sistem yang selalu memaksa kita untuk patuh tanpa bertanya.
Saya tahu, mungkin semua ini terdengar seperti rengekan atau gugatan kecil yang tak berarti. Tapi seperti Galileo, saya percaya bahwa satu bisikan kebenaran memiliki nilai yang besar, bahkan jika hanya terdengar oleh diri sendiri. Dan semoga, dari bisikan kecil itu, akan lahir keberanian-keberanian lain untuk tidak tunduk begitu saja pada aturan yang tak masuk akal.
Saya tidak sedang mengajak untuk menjadi anti-kapitalis. Tidak juga mengklaim sebagai pemuja sosialisme. Tapi saya hanya ingin mengatakan bahwa ada ruang untuk mempertanyakan, ada hak untuk menolak, dan ada keberanian yang perlu dirawat untuk tetap mengunyah kebenaran di tengah hiruk-pikuk dunia yang makin seragam. Seperti Galileo, yang walau dibungkam, tetap percaya bahwa bumi terus bergerak.
Dan, meskipun hanya satu catatan perjalanan kecil ke Lembur Pakuan, semoga kisah ini menyisakan satu pelajaran bahwa dalam hidup, kadang kita harus tetap bersuara meskipun lirih hanya lewat tulisan. Akan ada satu kisah penutup dari perjalanan ini yang akan saya tulis beberapa hari ke depan. Untuk sementara, mari ucapkan bersama: Eppur Si Muove!
Posting Komentar untuk "Perjalanan ke Lembur Pakuan: Eppur Si Muove"