Memahami Paradigma Pembangunan Kota Sukabumi: Isyarat Semesta (13)

Tahun 2012, satu tahun menjelang akhir kepemimpinan Muslikh Abdussyukur dan Mulyono di Kota Sukabumi. Di tengah rutinitas administrasi menjelang akhir masa jabatan, suasana global justru diguncang isu besar: ramalan akhir dunia yang konon akan terjadi pada Desember 2012, sebagaimana termuat dalam kalender suku Maya. Isu ini menyebar dengan cepat di ruang-ruang maya, yang kala itu mulai merangkak menjadi panggung komunikasi umat manusia.

Sebagian masyarakat dunia terjebak dalam ketakutan dan spekulasi. Wacana tentang kiamat, armagedon, dan berakhirnya tatanan kosmik merayap ke dalam kesadaran kolektif. Namun di Sukabumi, sebuah kota kecil di Jawa Barat, warga lebih sibuk memikirkan masa depan kepemimpinan daerah. Pemilihan kepala daerah dijadwalkan pada 24 Februari 2013, dan Muslikh Abdussyukur, menurut ketentuan perundangan, tidak dapat mencalonkan diri kembali.

Tak ada yang menyangkal bahwa Muslikh Abdussyukur, seorang wali kota berlatar birokrat, telah menjalani kepemimpinan yang cukup stabil dan kuat. Selama dua periode, tidak ada gejolak politik yang berarti. Stabilitas ini menjadi modal penting dalam menata pembangunan kota. Pertanyaannya kemudian, siapa yang akan melanjutkan estafet ini?

Dengan pendekatan khas birokrasi, Muslikh tidak menunjukkan dukungan secara terang-terangan kepada siapapun. Namun banyak pihak meyakini bahwa jika harus memilih, Muslikh cenderung akan mendukung sosok dari kalangan birokrat yang dapat memahami logika administrasi dan teknokrasi.

Menjelang akhir masa jabatannya, program pembangunan berbasis partisipasi masyarakat semakin dikuatkan. Pemerintah saat itu memperluas sistem swakelola dan padat karya. Pendekatan ini bukan sekadar strategi politik menjelang akhir jabatan, tetapi menjadi bentuk konkret dari konsep pemerintahan yang melibatkan masyarakat secara langsung dalam proses pembangunan.

Salah satu proyek yang paling dikenang adalah pembangunan Masjid Agung Kota Sukabumi. Dimulai pada Februari 2012 dan selesai pada Mei 2013, masjid ini dibangun dari gabungan dana gerakan wakaf uang (Gawang), bantuan gubernur, dan dana CSR. Masjid ini menjadi simbol dari getaran sosial dan spiritual masyarakat yang terbangun secara kolektif.

Pembangunan rumah ibadah melalui urunan warga menandakan bahwa masyarakat memiliki vibrasi yang masih menyatu. Muslikh Abdussyukur membaca dengan baik getaran sosial ini dan menjadikannya sebagai landasan pembangunan kota. Ia menyadari, akhir jabatan bukan alasan untuk berhenti berkarya.

Di sisi lain, para politisi yang mencalonkan diri dalam Pilkada lebih percaya pada kalkulasi elektoral ketimbang mendengarkan tanda-tanda sosial yang muncul di tengah masyarakat. Mereka abai terhadap pesan-pesan tersirat yang muncul dari pembangunan berbasis kebersamaan.

Dalam banyak perbincangan, termasuk dengan saya pribadi, Muslikh Abdussyukur sering menyebut dirinya sebagai "bapak" yang ingin anak-anaknya sukses. Ungkapan ini menyiratkan keinginan untuk melihat para calon penerus berkembang, namun juga mengandung nada penyesalan karena tidak semua anak mau mendengar atau mengikuti arah yang sudah dirintis.

Saya pernah berdiskusi langsung dengannya di salah satu tempat di perbatasan kota. Saat itu, saya menyampaikan hasil survei yang menunjukkan bahwa pasangan tertentu bisa menang jika bersatu. Tapi Muslikh lebih memilih untuk fokus menuntaskan tanggung jawabnya hingga akhir masa jabatan. "Saya hanya ingin menuntaskan ini dengan baik," katanya pelan, namun penuh keyakinan.

Pembangunan posyandu dengan pendekatan rempug jukung sauyunan adalah contoh lain dari warisan Muslikh. Dalam pembangunan ini, tercatat kontribusi swadaya masyarakat mulai dari Rp500 ribu hingga Rp2 juta per kegiatan. Nilai tersebut bukan hanya angka, tapi simbol dari keterlibatan aktif masyarakat. Dalam konteks sosial, ini menciptakan rasa kepemilikan. Dalam dimensi spiritual, ini menumbuhkan kesadaran bahwa pembangunan adalah panggilan moral seluruh warga kota.

Ekosistem pembangunan partisipatif yang dibangun Muslikh Abdussyukur tidak hanya mencerminkan pendekatan administratif, tetapi juga keberanian untuk mempercayai kekuatan masyarakat. Ia tidak banyak bicara tentang konsep besar, namun membuktikannya lewat praktik.

Sayangnya, menjelang Pilkada, atmosfer politik dipenuhi oleh suara-suara yang ingin merebut panggung tanpa memahami denyut yang sedang dibangun. Mereka lebih banyak membahas strategi kampanye ketimbang melanjutkan kesinambungan pembangunan.

Masyarakat Kota Sukabumi sebenarnya cukup terbuka. Kota ini memiliki daya spiritual dan sosial yang kuat. Pemimpinnya hanya perlu peka terhadap getaran-getaran halus yang muncul dari kehidupan sehari-hari.

Muslikh Abdussyukur tidak pernah memaksa arah. Ia menunjukkan jalan, meletakkan fondasi, dan membiarkan waktu memilih siapa yang siap melanjutkannya. Dalam hal ini, ia tampak memahami bahwa kekuasaan sejati adalah kemampuan untuk merelakan sesuatu berjalan tanpa kendali mutlak. Ketika pembangunan dilakukan dengan keselarasan sosial dan spiritual, hasilnya tidak hanya tampak, tapi terasa. Bangunan fisik identik dengan peradaban kecil yang tumbuh dari bawah.

Hasil Pilkada 2013 mungkin tidak sepenuhnya berpihak kepada garis yang diharapkan. Namun perjalanan itu adalah bagian dari pembelajaran kolektif. Kota ini sedang belajar memilih dan menerima konsekuensi dari pilihan tersebut. Walakin sejarah mencatat bahwa masa akhir Muslikh bukan masa transisi yang suram. Justru pada masa ini muncul fondasi-fondasi baru yang lahir dari semangat kolaborasi dan vibrasi positif masyarakat.

Tahun 2012 dan 2013 bukanlah kiamat seperti yang dikhawatirkan banyak orang akibat ramalan suku Maya. Bagi Kota Sukabumi, tahun itu menjadi titik balik, sebuah momen transisi yang membawa pelajaran penting tentang bagaimana memahami waktu, perubahan, dan kesinambungan.

Di kota ini, seperti dalam semesta yang terus berputar, ada hukum-hukum yang bekerja lebih dalam dari sekadar aturan politik. Hukum tentang kesadaran, kebersamaan, dan kelapangan hati. Dan selama pemimpin-pemimpinnya tetap mampu membaca tanda-tanda, kota ini akan terus menemukan jalannya sendiri. Bukan dengan gegap gempita, tetapi dengan langkah tenang yang penuh makna.
Kang Warsa
Kang Warsa Sering menulis hal yang berhubungan dengan budaya, Bahasa, dan kasukabumian.

Posting Komentar untuk "Memahami Paradigma Pembangunan Kota Sukabumi: Isyarat Semesta (13)"