Sepanjang Jalan Kenangan: Sukabumi Tahun 80–90-an (Bagian 25)

Masa keemasan radio di Amerika Serikat dan Eropa mungkin berlangsung pada tahun 1930–1950-an, masa di mana radio menjadi alat komunikasi dan hiburan utama masyarakat sebelum munculnya televisi. Fenomena ini menyiratkan betapa pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dalam satu abad terakhir.

Sejak konsep gelombang elektromagnetik pertama kali dicetuskan dalam fisika teoritis oleh James Clerk Maxwell pada pertengahan abad ke-19, penemuan ini dengan cepat melahirkan berbagai inovasi praktis. Maxwell menggabungkan teori listrik dan magnetisme menjadi satu kesatuan sistem persamaan yang meramalkan keberadaan gelombang elektromagnetik yang dapat merambat di ruang hampa.

Beberapa dekade kemudian, prediksi Maxwell ini dibuktikan secara eksperimen oleh Heinrich Hertz pada 1887. Namun, perwujudan praktis dari teori ini benar-benar terealisasi oleh Guglielmo Marconi, yang pada tahun 1895 berhasil mengirim sinyal nirkabel sejauh 1,5 kilometer.

Penemuan Marconi menandai kelahiran teknologi radio, yaitu kemampuan untuk mengubah gelombang elektromagnetik menjadi sinyal suara, sebuah lompatan besar dalam fisika terapan dan teknologi komunikasi.

Dalam sistem radio, suara pertama-tama diubah menjadi sinyal listrik, lalu ditumpangkan (dimodulasi) ke gelombang elektromagnetik, dipancarkan melalui udara, lalu ditangkap oleh penerima dan dikembalikan lagi menjadi suara. Proses ini terlihat sederhana kini, namun di masa itu merupakan sebuah keajaiban teknologi yang mengubah peradaban manusia.

Di Indonesia, masa keemasan radio datang lebih lambat, yakni pada tahun 1970–1990-an. Hal ini disebabkan oleh kondisi politik yang belum stabil serta posisi Indonesia sebagai negara berkembang yang bukan produsen teknologi, melainkan konsumen.

Walakin saat radio mulai menjamur, geliat informasi dan hiburan satu arah menyebar dengan cepat ke berbagai wilayah, termasuk ke Sukabumi. Di kota ini, mulai bermunculan berbagai stasiun radio lokal seperti Monarchi, El-Amigo, Airlangga, Fortuna, Sturada, dan Purnayudha. Format siarannya beragam, tetapi umumnya menggabungkan informasi dan musik dalam satu paket siaran komersial yang disukai masyarakat.

Keberadaan radio tidak hanya memberi akses terhadap informasi dan hiburan, tetapi juga melahirkan sosok-sosok penyiar yang dikagumi pendengarnya. Berbeda dengan televisi yang menonjolkan visual, radio menempatkan suara sebagai medium utama.

Pendengar jatuh hati bukan pada wajah, tetapi pada intonasi, artikulasi, dan gaya bertutur para penyiar yang terasa akrab di telinga. Suara radio seolah hidup dan menjadi teman setia di rumah-rumah, warung kopi, dan angkot-angkot. Saya sendiri menganggap radio sebagai "kotak ajaib", yang mampu mengubah gelombang tak terlihat menjadi suara manusia, lagu, bahkan berita dari belahan dunia lain.

Jenis gelombang yang digunakan saat itu meliputi AM (Amplitude Modulation), FM (Frequency Modulation), dan SW (Short Wave). Hingga dekade 1980-an, stasiun radio di Sukabumi sebagian besar masih melakukan siaran di gelombang AM dan SW. Gelombang FM mulai digunakan di akhir 1980-an, namun infrastrukturnya membutuhkan biaya yang lebih besar karena memerlukan pemancar dan antena khusus.

Di Amerika Serikat pun, gelombang FM baru dikembangkan secara luas pada tahun 1950-an, seiring meningkatnya kebutuhan akan kejernihan suara musik yang tidak bisa dipenuhi oleh AM. Meskipun harus mencocokkan tuning gelombang secara manual, masyarakat kala itu tetap menganggap radio sebagai barang mewah sekaligus sarana hiburan praktis karena hanya dengan satu kali beli radio, mereka bisa menikmati musik tanpa harus membeli kaset.

Selain hiburan, radio juga menjadi sarana penyebaran informasi satu arah yang dimanfaatkan sepenuhnya oleh pemerintahan Orde Baru. Siaran berita, pengumuman harga bahan pokok penting, pendidikan Pancasila, hingga musik barat menjadi menu utama siaran.

Sensor ketat diberlakukan untuk membatasi isi siaran yang berbau kritik politik. Namun, justru pada era ini, musik Barat lebih bebas disiarkan dibandingkan masa sebelumnya yang menganggap musik “ngak-ngik-ngok” dari Barat sebagai pengaruh buruk budaya asing.

Peralihan siaran dari AM ke FM di Sukabumi menjadi sebuah revolusi pada awal 1990-an. Beberapa stasiun radio lokal yang sebelumnya bertahan di gelombang AM akhirnya melakukan migrasi karena tuntutan kualitas suara yang lebih baik.

Kendati sebagian penyiar dan pemilik stasiun sempat mempertahankan gelombang AM dengan berbagai dalih teknis dan historis, namun pada akhirnya infrastruktur FM lebih diminati karena memberi kejernihan suara dan jangkauan yang lebih stabil. Perubahan ini menandai akhir dominasi radio AM di kota kecil ini.

Namun, seiring dengan hadirnya televisi dan internet, peran radio mulai tergeser. Di negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa, tren ini sudah terjadi sejak 1970-an, hingga grup musik The Buggles merilis lagu ikonik "Video Killed the Radio Star", sebagai simbol pergeseran budaya dari suara ke gambar.

Bagi saya pribadi, radio tetap menyimpan ruang ingatan yang besar. Saya masih ingat, radio transistor sederhana di rumah kami dapat menangkap siaran dari BBC London, Radio Australia, VOA, DW, hingga Radio RRC, tergantung waktu dan arah antena.

Setiap pagi pukul 5.00, kami menyimak berita dari Eropa, lalu beralih ke benua lain menjelang malam. Kini, siaran semacam itu masih bisa diakses secara daring melalui layanan streaming, tetapi sensasi "menangkap suara dari udara" melalui kotak kecil dengan suara gemerisik tetap menjadi keajaiban masa kecil yang tak tergantikan.
Kang Warsa
Kang Warsa Sering menulis hal yang berhubungan dengan budaya, Bahasa, dan kasukabumian.

Posting Komentar untuk "Sepanjang Jalan Kenangan: Sukabumi Tahun 80–90-an (Bagian 25)"