Aku dan Flo

Tiga dekade lalu, saat awal duduk di bangku SMP, hidup saya dipenuhi oleh pertemuan dengan banyak wajah baru. Sebagai anak baru, saya perlahan mulai memahami bahwa pergaulan pun memiliki hukum seleksi alaminya sendiri.

Seperti teori evolusi Darwin yang waktu itu baru diperkenalkan kepada kami di kelas, saya melihat bahwa dalam hal apapun, alam dengan seperangkat aturannya selalu punya cara untuk memilah dan memilih, bahkan dalam hal sesederhana menentukan siapa yang akan menjadi sahabat kita.

Dari sekian banyak nama yang saya kenal, satu nama mencuri perhatian saya karena terasa asing di telinga: Florentina Rosalia Nanaryain. Namanya berasal dari bahasa Latin, berbeda dari kebanyakan teman yang punya nama berakar dari bahasa Sunda atau Sanskerta seperti Iin, Ai, Wati, Dewi, atau Reni.

Nama Florentina mengingatkan saya pada nama-nama guru kami yang juga bercorak Latin, Albertus Bambang, Constantinus Hatulely, Yulianus Sagiman, dan Yuliana Andarini Safitri. Saya selalu percaya, nama adalah doa. Di balik setiap nama, tersimpan harapan orangtua dan jejak latar belakang keluarga.

Persahabatan saya dengan Florentina, yang kemudian akrab saya panggil “Florent” atau “Flo”, dimulai sejak kelas satu SMP. Kami sering berbicara, bercanda, dan entah mengapa saya cenderung mengajukan pertanyaan-pertanyaan layaknya ujian kepadanya. Mungkin itu sudah menjadi kebiasaan saya sejak dulu, bertanya untuk menguji, bukan untuk menghakimi.

Kelak, saya baru sadar bahwa gaya interaksi seperti itu seakan mempersiapkan Flo untuk profesinya kelak. Bertahun-tahun kemudian, saya mengetahui bahwa ia menjadi guru bahasa Jerman. Informasi ini baru saya dapat beberapa bulan sebelum Reuni Perak SMA.

Lucunya, pola kebersamaan kami kembali terulang. Di SMA, kami lagi-lagi satu kelas, kali ini di kelas tiga. Namun, situasinya berbeda. Kami sudah tumbuh dewasa, komunikasi menjadi lebih formal, dan interaksi tidak seintens dulu.

Setelah lulus sekolah, jalan hidup membawa kami ke arah yang berbeda. Kami nyaris tak pernah bertemu lagi, seperti kebanyakan teman-teman lain yang terpisahkan oleh jarak, waktu, dan kesibukan masing-masing. Meski begitu, ada detail yang tak pernah hilang dari ingatan saya, warna tas kecil yang Flo bawa ketika SMP, lengkap dengan modelnya. Seakan memori itu membeku di ruang khusus di kepala saya.

Ketertarikan saya pada filsafat dan spiritualitas semakin berkembang seiring waktu. Dua hal itu bagi saya bukan lawan, melainkan dua sayap yang membantu manusia terbang lebih tinggi. Saya tidak pernah merasa perlu meninggalkan keyakinan agama demi mencintai filsafat, begitu pula sebaliknya, saya tidak perlu menolak filsafat demi setia pada agama.

Dalam pandangan saya, Tuhan memiliki potentia Dei absoluta, kekuasaan mutlak yang berada di luar jangkauan usaha manusia. Di sisi lain, ada potentia Dei ordinata, kekuasaan yang diatur melalui hukum-hukum yang dapat manusia usahakan, seperti sebab-akibat. Hidup berjalan seperti matriks yang kompleks, namun selalu memiliki pola tersendiri.

Entah bagaimana, dua tahun terakhir ini takdir membawa saya kembali dekat dengan Flo. Intensitas percakapan kami meningkat, terutama melalui obrolan daring. Minggu ini menjadi puncaknya, momen yang saya rasa istimewa, karena saya akhirnya berkenalan dengan ibunya di Cikembar.

Kami berbincang lama, lalu pulang di tengah hujan deras. Ada sesuatu yang hangat di balik dinginnya hujan sore itu. Seolah alam sedang merayakan kembalinya persahabatan kami, atau mungkin lebih dari sekadar persahabatan.

Kami melaju melalui jalan berliku, menanjak, dan menurun di tengah derasnya hujan, dan saya hanya tersenyum. Generasi Z mungkin akan menganggap kami aneh, mengapa tidak berteduh dulu saja?

Namun, ada saat-saat ketika manusia, sedewasa apapun, kembali pada sisi kekanak-kanakan mereka. Hujan itu mengembalikan saya pada masa SMP, pada masa ketika persahabatan terasa sederhana dan murni.

Saya merasakan rindu yang sulit dijelaskan, rindu pada masa lalu, rindu pada momen-momen kecil, dan rindu pada Flo sebagai bagian dari hari ini.

Bagi saya, Flo bukan hanya teman lama. Ia adalah fragmen waktu yang hidup kembali, membawa serta aroma hujan, tawa remaja, dan kenangan yang menolak pudar. Saya sedang merindukan waktu, juga merindukannya.

Kang Warsa
Kang Warsa Sering menulis hal yang berhubungan dengan budaya, Bahasa, dan kasukabumian.

1 komentar untuk "Aku dan Flo"

  1. Flo adalah perempuan tegar yang senyumnya tetap teduh meskipun hujan deras mengguyur kisahnya.
    take care of her, make her happy, give her an umbrella so the rain doesn't hit her

    BalasHapus