Dalam hal tertentu, meskipun beberapa waktu lalu saya pernah menulis bahwa hidup manusia tidak selalu linear, ada kalanya hidup ini mengikuti pola. Dengan demikian, hidup seseorang sebenarnya dapat diamati melalui pengenalan pola lini masa hidupnya dari sejak kecil hingga saat ini. Bahkan, masih dalam kasus tertentu, pola-pola itu biasanya berlaku juga pada satu tempat. Ini menjadi salah satu alasan bahwa alam dan keberadaan hukum-hukumnya diciptakan oleh Tuhan secara matematis, berisi hitungan yang tepat.
Saya sering membayangkan bahwa setiap langkah manusia adalah bagian dari kalkulasi semesta yang rumit, namun entah kenapa selalu terasa sederhana ketika dijalani. Seperti sungai yang tahu jalannya sendiri menuju muara, manusia pun demikian, ia mengikuti arus yang kadang tak kasat mata, namun jika ditengok ke belakang, semuanya tampak begitu rapi dan penuh maksud.
Bahkan pertemuan-pertemuan yang terasa kebetulan pun, bila ditelisik lebih dalam, sering kali merupakan buah dari hitungan-hitungan yang telah ditanam sejak lama. Sebagaimana benih yang jatuh ke tanah, ia tidak tumbuh di sembarang tempat, melainkan hanya di titik yang telah disiapkan oleh alam untuknya.
Hatta, dalam hal pertemanan pun, kita dapat mengamati dan meneliti lingkaran teman-teman yang ada di sekitar kita atau circle pertemanan itu melalui pola tertentu. Dengan mengenali ini, paling tidak kita akan memiliki argumentasi mengenai alasan kenapa kita berteman dekat dengan Si A, bukan dengan Si Z, atau kenapa lingkaran pertemanan kita tidak lebih dari sepuluh orang saja, padahal jumlah populasi dalam satu kawasan bisa mencapai ratusan ribu.
Pernahkah kita merenung, bahwa dari sekian banyak wajah yang kita temui setiap hari entah itu di pasar, di jalan, atau di tempat kerja, hanya segelintir yang akhirnya singgah dan menetap dalam ingatan? Selebihnya lewat begitu saja seperti angin berlalu, tak meninggalkan jejak apa-apa.
Tetapi ada beberapa sosok yang entah bagaimana caranya, seolah telah ditakdirkan untuk muncul dalam episode-episode penting kehidupan kita. Mereka bukan hanya teman, melainkan bagian dari mozaik besar yang sedang disusun oleh waktu. Dalam hal inilah, angka sepuluh itu menjadi menarik, ia bukan batas kemampuan sosial, melainkan semacam ambang alami yang membuat hubungan menjadi bermakna. Di luar itu, manusia hanya bisa saling sapa, tetapi tidak benar-benar saling kenal.
Saya tidak akan terlalu jauh memberikan komentar terhadap pola yang dihadapi oleh manusia. Mari kita ajukan satu hipotesa tentang tempat-tempat terdekat dengan diri kita, dalam hal ini diri saya sendiri. Sekitar tahun 80 dan 90-an, saat masih duduk di sekolah dasar, guru olahraga dan guru yang bertanggung jawab terhadap bakat serta minat siswa sering mengajak para siswa untuk berolahraga dan pramuka ke Lapang Kibitay.
Waktu itu, jalan masuk dari Jl. Pelabuan II, Jl. Lembursitu, dan Kibitay masih rimbun oleh pepohonan dengan pola permukiman memanjang mengikuti jalan. Jalan-jalan itu masih berupa tanah berbatu, dan kami, anak-anak sekolah dasar, akan berjalan berbaris sambil sesekali berhenti untuk melihat-lihat sekitar.
Siapa sangka bahwa kelak, di antara derap langkah kaki kecil itu, tanpa kita sadari, telah tertanam semacam magnet yang akan menarik kita kembali ke tempat yang sama, bertahun-tahun kemudian, dengan orang-orang yang ketika itu bahkan belum kita kenal. Tempat, rupanya, memiliki ingatannya sendiri; dan ia menyimpan jejak kita jauh sebelum kita menyadari bahwa jejak itu sedang direkam.
Dari pengalaman yang pernah dialami pada tahun 80-90-an tersebut, pada saat itu saya sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa jejak kaki yang saya injakkan di jalan itu adalah penanda atau pola tertentu yang di kemudian hari akan sering saya injak lagi. Sampai saat ini, setelah kurang lebih empat dekade, pola tersebut mulai bermunculan.
Ternyata ada alasan kenapa sejak dini saya sudah sering menginjakkan kaki ke sana, dan pada perjalanan lini masa berikutnya, di daerah tersebut tiba-tiba bermunculan orang-orang yang saya kenal dan menjadi teman dekat. Entah itu teman sekolah pada jenjang berikutnya atau rekan kerja. Bahkan, belakangan saya baru menyadari bahwa beberapa orang yang kini menjadi sahabat karib saya ternyata dulunya tinggal tidak jauh dari jalan-jalan yang pernah saya lalui dengan seragam putih merah itu. Seolah-olah kami telah saling berpapasan puluhan tahun lalu, hanya belum diperkenalkan oleh waktu.
Mungkin, di suatu pagi yang sama, saya berjalan menuju Lapang Kibitay, sementara sahabat saya itu sedang duduk di pinggir jalan dengan mainan kayunya, tanpa kami saling tahu bahwa di masa depan, kami akan duduk bersama membicarakan tentang penataan kota, bagaimana sebaiknya kota ini ditata, dan hal remeh temeh lainnya. Kehidupan memang cenderung menyimpan kejutan-kejutan semacam ini, ia menunda perkenalan sambil diam-diam menyiapkan habitatnya.
Tidak sampai di situ, pola tersebut terus membentuk perjalanan hidup berikutnya. Sampai saat ini saya terbiasa menyepi, dalam arti mengheningkan pikiran, dengan mengunjungi tempat-tempat di daerah tersebut. Bahkan, saya sempat memiliki dugaan bahwa di masa lalu, tempat yang sering saya kunjungi ini merupakan danau dengan ukuran lumayan besar.
Penelitian terkini melalui pemotretan satelit menyebutkan bahwa dari daerah Tegal Jambu hingga Lembursitu memang banyak dijumpai genangan air jenuh di kedalaman tertentu. Hal ini menjadi pertanda bahwa di masa lalu memang pernah ada danau atau situ di daerah tersebut. Saya membayangkan, berabad-abad silam, air menggenang tenang di sana, memantulkan langit dan menjadi sumber kehidupan bagi siapa saja yang tinggal di tepiannya.
Mungkin, di atas permukaannya yang dulu, ada rakit dan perahu kecil. Dan mungkin pula, para leluhur kita pernah berendam di situ, membersihkan diri, berdoa, dan menatap ke depan dengan harapan yang sama seperti yang kini saya rasakan.
Pola ini terus berlanjut. Di saat kecil, dari belakang rumah kakek dan nenek, saya dapat melihat dengan jelas patung naga di Pemakaman Santiong. Hingga suatu hari, kakek pernah mengajak saya untuk melihat patung ini ke Santiong dan menyaksikannya dari jarak dekat. Dari pengalaman masa kecil itu, tidak pernah terbersit sedikit pun bayangan bahwa di kemudian hari saya akan lebih sering mengunjungi tempat ini, dimulai pada tahun 1997 saat untuk pertama kalinya di sebelah barat pemakaman Santiong dibangun TPA Cikundul oleh pemerintah.
Kemudian, pada babak berikutnya, saya sering melintasi jalan tersebut untuk pulang ke Jl. Merdeka dan Jl. Proklamasi. Jadi, pola-pola tersebut seolah muncul dengan skema tertentu dan begitu logis. Tahun lalu, saya bersama Mang Ifey, salah seorang teman yang tinggal di Santiong, sengaja mencari-cari kembali patung naga yang kini telah terhalangi oleh rimbunnya pepohonan dan semak belukar.
Saya tidak akan membahas terlalu panjang lebar tentang pengalaman pribadi karena sifatnya terlalu subjektif. Mungkin saja, pengalaman orang lain juga memiliki pola yang mirip dengan apa yang saya alami.
Di masa lalu, pernah ada Nostradamus, Jayabaya, dan Ranggawarsita yang dapat membaca pertanda di masa itu, lalu meramunya untuk memprediksi peristiwa di masa depan. Ada pula anggapan bahwa orang-orang yang dapat membaca peristiwa di masa depan itu justru merupakan orang-orang dari masa depan itu sendiri.
Hal yang lebih ilmiah adalah tentang multiverse, kajian fisika teoretis yang cukup populer sejak tahun 50-an, bahwa dalam kondisi tertentu, seseorang dapat tiba-tiba terseret masuk ke dimensi atau lini masa alam lain di sebuah ruang yang berbeda dengan kita saat ini.
Bagi penganut fisika teoretis dan penggemar fiksi ilmiah, fenomena ini bukan tidak mungkin terjadi dan dialami oleh banyak orang. Ar-Razi, salah seorang pemikir Islam abad pertengahan, juga memaparkan tentang "banyak dunia" dalam hidup ini. Saya tidak tahu apakah pola-pola yang saya alami ini adalah bagian dari dunia-dunia itu, ataukah hanya kebetulan yang dibungkus oleh kerinduan manusia akan makna.
Namun, ada satu hal yang semakin saya percayai bahwa di setiap tempat yang pernah kita pijak, tertinggal serpihan diri kita yang kelak akan kita temui kembali dalam wujud yang berbeda. Mungkin saja, seperti yang dikatakan oleh para sufi, bahwa segala sesuatu di alam ini adalah cermin; dan apa yang kita lihat di luar sejatinya adalah pantulan dari apa yang tersimpan di dalam. Maka, melihat kembali jejak-jejak masa lalu bukanlah nostalgia an sich, melainkan juga upaya untuk menemukan kembali diri yang pernah kita tinggalkan.
Saya sering membayangkan bahwa setiap langkah manusia adalah bagian dari kalkulasi semesta yang rumit, namun entah kenapa selalu terasa sederhana ketika dijalani. Seperti sungai yang tahu jalannya sendiri menuju muara, manusia pun demikian, ia mengikuti arus yang kadang tak kasat mata, namun jika ditengok ke belakang, semuanya tampak begitu rapi dan penuh maksud.
Bahkan pertemuan-pertemuan yang terasa kebetulan pun, bila ditelisik lebih dalam, sering kali merupakan buah dari hitungan-hitungan yang telah ditanam sejak lama. Sebagaimana benih yang jatuh ke tanah, ia tidak tumbuh di sembarang tempat, melainkan hanya di titik yang telah disiapkan oleh alam untuknya.
Hatta, dalam hal pertemanan pun, kita dapat mengamati dan meneliti lingkaran teman-teman yang ada di sekitar kita atau circle pertemanan itu melalui pola tertentu. Dengan mengenali ini, paling tidak kita akan memiliki argumentasi mengenai alasan kenapa kita berteman dekat dengan Si A, bukan dengan Si Z, atau kenapa lingkaran pertemanan kita tidak lebih dari sepuluh orang saja, padahal jumlah populasi dalam satu kawasan bisa mencapai ratusan ribu.
Pernahkah kita merenung, bahwa dari sekian banyak wajah yang kita temui setiap hari entah itu di pasar, di jalan, atau di tempat kerja, hanya segelintir yang akhirnya singgah dan menetap dalam ingatan? Selebihnya lewat begitu saja seperti angin berlalu, tak meninggalkan jejak apa-apa.
Tetapi ada beberapa sosok yang entah bagaimana caranya, seolah telah ditakdirkan untuk muncul dalam episode-episode penting kehidupan kita. Mereka bukan hanya teman, melainkan bagian dari mozaik besar yang sedang disusun oleh waktu. Dalam hal inilah, angka sepuluh itu menjadi menarik, ia bukan batas kemampuan sosial, melainkan semacam ambang alami yang membuat hubungan menjadi bermakna. Di luar itu, manusia hanya bisa saling sapa, tetapi tidak benar-benar saling kenal.
Saya tidak akan terlalu jauh memberikan komentar terhadap pola yang dihadapi oleh manusia. Mari kita ajukan satu hipotesa tentang tempat-tempat terdekat dengan diri kita, dalam hal ini diri saya sendiri. Sekitar tahun 80 dan 90-an, saat masih duduk di sekolah dasar, guru olahraga dan guru yang bertanggung jawab terhadap bakat serta minat siswa sering mengajak para siswa untuk berolahraga dan pramuka ke Lapang Kibitay.
Waktu itu, jalan masuk dari Jl. Pelabuan II, Jl. Lembursitu, dan Kibitay masih rimbun oleh pepohonan dengan pola permukiman memanjang mengikuti jalan. Jalan-jalan itu masih berupa tanah berbatu, dan kami, anak-anak sekolah dasar, akan berjalan berbaris sambil sesekali berhenti untuk melihat-lihat sekitar.
Siapa sangka bahwa kelak, di antara derap langkah kaki kecil itu, tanpa kita sadari, telah tertanam semacam magnet yang akan menarik kita kembali ke tempat yang sama, bertahun-tahun kemudian, dengan orang-orang yang ketika itu bahkan belum kita kenal. Tempat, rupanya, memiliki ingatannya sendiri; dan ia menyimpan jejak kita jauh sebelum kita menyadari bahwa jejak itu sedang direkam.
Dari pengalaman yang pernah dialami pada tahun 80-90-an tersebut, pada saat itu saya sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa jejak kaki yang saya injakkan di jalan itu adalah penanda atau pola tertentu yang di kemudian hari akan sering saya injak lagi. Sampai saat ini, setelah kurang lebih empat dekade, pola tersebut mulai bermunculan.
Ternyata ada alasan kenapa sejak dini saya sudah sering menginjakkan kaki ke sana, dan pada perjalanan lini masa berikutnya, di daerah tersebut tiba-tiba bermunculan orang-orang yang saya kenal dan menjadi teman dekat. Entah itu teman sekolah pada jenjang berikutnya atau rekan kerja. Bahkan, belakangan saya baru menyadari bahwa beberapa orang yang kini menjadi sahabat karib saya ternyata dulunya tinggal tidak jauh dari jalan-jalan yang pernah saya lalui dengan seragam putih merah itu. Seolah-olah kami telah saling berpapasan puluhan tahun lalu, hanya belum diperkenalkan oleh waktu.
Mungkin, di suatu pagi yang sama, saya berjalan menuju Lapang Kibitay, sementara sahabat saya itu sedang duduk di pinggir jalan dengan mainan kayunya, tanpa kami saling tahu bahwa di masa depan, kami akan duduk bersama membicarakan tentang penataan kota, bagaimana sebaiknya kota ini ditata, dan hal remeh temeh lainnya. Kehidupan memang cenderung menyimpan kejutan-kejutan semacam ini, ia menunda perkenalan sambil diam-diam menyiapkan habitatnya.
Tidak sampai di situ, pola tersebut terus membentuk perjalanan hidup berikutnya. Sampai saat ini saya terbiasa menyepi, dalam arti mengheningkan pikiran, dengan mengunjungi tempat-tempat di daerah tersebut. Bahkan, saya sempat memiliki dugaan bahwa di masa lalu, tempat yang sering saya kunjungi ini merupakan danau dengan ukuran lumayan besar.
Penelitian terkini melalui pemotretan satelit menyebutkan bahwa dari daerah Tegal Jambu hingga Lembursitu memang banyak dijumpai genangan air jenuh di kedalaman tertentu. Hal ini menjadi pertanda bahwa di masa lalu memang pernah ada danau atau situ di daerah tersebut. Saya membayangkan, berabad-abad silam, air menggenang tenang di sana, memantulkan langit dan menjadi sumber kehidupan bagi siapa saja yang tinggal di tepiannya.
Mungkin, di atas permukaannya yang dulu, ada rakit dan perahu kecil. Dan mungkin pula, para leluhur kita pernah berendam di situ, membersihkan diri, berdoa, dan menatap ke depan dengan harapan yang sama seperti yang kini saya rasakan.
Pola ini terus berlanjut. Di saat kecil, dari belakang rumah kakek dan nenek, saya dapat melihat dengan jelas patung naga di Pemakaman Santiong. Hingga suatu hari, kakek pernah mengajak saya untuk melihat patung ini ke Santiong dan menyaksikannya dari jarak dekat. Dari pengalaman masa kecil itu, tidak pernah terbersit sedikit pun bayangan bahwa di kemudian hari saya akan lebih sering mengunjungi tempat ini, dimulai pada tahun 1997 saat untuk pertama kalinya di sebelah barat pemakaman Santiong dibangun TPA Cikundul oleh pemerintah.
Kemudian, pada babak berikutnya, saya sering melintasi jalan tersebut untuk pulang ke Jl. Merdeka dan Jl. Proklamasi. Jadi, pola-pola tersebut seolah muncul dengan skema tertentu dan begitu logis. Tahun lalu, saya bersama Mang Ifey, salah seorang teman yang tinggal di Santiong, sengaja mencari-cari kembali patung naga yang kini telah terhalangi oleh rimbunnya pepohonan dan semak belukar.
Saya tidak akan membahas terlalu panjang lebar tentang pengalaman pribadi karena sifatnya terlalu subjektif. Mungkin saja, pengalaman orang lain juga memiliki pola yang mirip dengan apa yang saya alami.
Di masa lalu, pernah ada Nostradamus, Jayabaya, dan Ranggawarsita yang dapat membaca pertanda di masa itu, lalu meramunya untuk memprediksi peristiwa di masa depan. Ada pula anggapan bahwa orang-orang yang dapat membaca peristiwa di masa depan itu justru merupakan orang-orang dari masa depan itu sendiri.
Hal yang lebih ilmiah adalah tentang multiverse, kajian fisika teoretis yang cukup populer sejak tahun 50-an, bahwa dalam kondisi tertentu, seseorang dapat tiba-tiba terseret masuk ke dimensi atau lini masa alam lain di sebuah ruang yang berbeda dengan kita saat ini.
Bagi penganut fisika teoretis dan penggemar fiksi ilmiah, fenomena ini bukan tidak mungkin terjadi dan dialami oleh banyak orang. Ar-Razi, salah seorang pemikir Islam abad pertengahan, juga memaparkan tentang "banyak dunia" dalam hidup ini. Saya tidak tahu apakah pola-pola yang saya alami ini adalah bagian dari dunia-dunia itu, ataukah hanya kebetulan yang dibungkus oleh kerinduan manusia akan makna.
Namun, ada satu hal yang semakin saya percayai bahwa di setiap tempat yang pernah kita pijak, tertinggal serpihan diri kita yang kelak akan kita temui kembali dalam wujud yang berbeda. Mungkin saja, seperti yang dikatakan oleh para sufi, bahwa segala sesuatu di alam ini adalah cermin; dan apa yang kita lihat di luar sejatinya adalah pantulan dari apa yang tersimpan di dalam. Maka, melihat kembali jejak-jejak masa lalu bukanlah nostalgia an sich, melainkan juga upaya untuk menemukan kembali diri yang pernah kita tinggalkan.

Posting Komentar untuk "Pola dalam Hidup"